INDONESIATREN.COM - Ratusan warga Kampung Babakan Sari, RT 003/RW 017, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, pada Rabu, 22 Juli 2026, mendapatkan bantuan air bersih dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kecamatan Cibadak, PMI Kabupaten Sukabumi, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi. Sebanyak dua truk tangki berkapasitas total 15.000 liter air bersih dikirimkan ke lokasi permukiman warga, yang telah hampir dua bulan dilanda kekeringan parah.
Ketua PMI Kecamatan Cibadak, Asep Pahrizal, mengatakan, penyaluran air bersih ini menindaklanjuti laporan Pemerintah Desa Sekarwangi atas kondisi krisis air di wilayah itu. ”Alhamdulillah, setelah ada pengajuan dari Desa Sekarwangi kepada PMI Kecamatan Cibadak dan BPBD Kabupaten Sukabumi, bantuan air bersih langsung kami distribusikan ke Kampung Babakan Sari. Ada lebih 200 kepala keluarga yang terdampak, dan hari ini kami menyalurkan dua tangki air dengan total 15.000 liter,” ujar Asep.
Bantuan air bersih didapat dari PMI Kecamatan Cibadak, PMI Kabupaten Sukabumi, dan BPBD Kabupaten Sukabumi
Baca juga: Kunjungi PMI Kabupaten Sukabumi, Komeng dan PASKI Serahkan Bantuan bagi Korban Bencana Alam
Ketua RW 017, Edi Supredi, mengungkapkan, krisis air berkepanjangan akibat kemarau pada tahun ini telah melumpuhkan aktivitas harian warga. Dampak kekeringan tak hanya dirasakan warga permukiman, namun juga mengancam area persawahan yang kini mengering. Sedikitnya, 218 kepala keluarga (KK) di empat RT harus berjuang mendapatkan air setiap hari.
Selama hampir dua bulan, warga harus berjalan kaki ke sungai yang berjarak sekitar 500 meter dari permukiman, untuk mendapatkan air. Kampung Babakan Sari menjadi wilayah langganan kekeringan pada setiap tahunnya. Kondisi tanah yang berbatu kuarsa membuat wilayah itu sulit menyimpan cadangan air tanah saat musim kemarau tiba.
Baca juga: Kunjungi Lokasi Banjir di Bekasi Selatan, Kajati Jabar Berikan Bantuan bagi Warga
”Sudah hampir dua bulan warga kesulitan air. Sawah-sawah yang luas pun ikut terdampak. Selama ini, warga mengambil air dari kali yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah. Air itu hanya layak untuk mencuci. Sedangkan untuk konsumsi sangat tidak layak. Harapan kami ke depan ada bantuan sumur bor. Kalau musim kemarau tiba, daerah ini selalu mengalami kekeringan yang cukup parah,” tutur Edi.
Seorang warga bernama Nenoh membenarkan penuturan Edi. Selama kekeringan melanda wilayah tempat tinggalnya, perempuan 58 tahun ini harus membeli air galon isi ulang ke Cibadak demi kebutuhan memasak dan minum di rumahnya. Sementara, untuk mencuci pakaian, Nenoh harus menempuh perjalanan jauh ke sungai yang sangat menguras tenaganya.
Beban Nenoh kian berat, karena suaminya baru saja menjalani operasi medis dan belum bisa beraktivitas seperti biasa. Apalagi, sampai harus membantu mengangkut air. Kehadiran dua truk tangki air bersih itu menjadi penawar dahaga, sekaligus pelipur lara bagi keluarga dan tetangganya.
Sebanyak 15.000 liter air bersih dikirimkan bagi warga yang wilayahnya dilanda kekeringan
”Sedih sekali, sampai menangis. Untuk masak, kami beli air galon ke Cibadak. Kalau mencuci, harus ke kali yang lumayan jauh. Pulangnya capek. Sumur di rumah kedalamannya sembilan meter. Tapi, tetap tidak ada air,” kata Nenoh.
”Alhamdulillah, hari ini air sudah datang. Terima kasih kepada PMI dan BPBD. Mudah-mudahan, bantuan air bisa terus dikirim, atau kalau bisa dibuatkan sumur bor, agar kami tidak kesulitan lagi setiap musim kemarau,” harap Nenoh. (*)
