Koran Mati Akibat Digitalisasi, Loper Tetap Belum “Game Over” dan Rutin Diingat tiap 8 Oktober

Minggu, 29 Jun 2025 13:30
    Bagikan  
Koran Mati Akibat Digitalisasi, Loper Tetap Belum “Game Over” dan Rutin Diingat tiap 8 Oktober
PNGEgg

Ilustrasi loper koran, profesi yang pernah digeluti banyak warga dunia

INDONESIATREN.COM - Libur panjang akhir pekan menyambut datangnya Tahun Baru Islam, 1 Muharam 1447 Hijriah, membuat Penulis jadi melankolis. Saat itu, terekam jelas dalam ingatan Penulis, situasi merindukan ini: kabut tipis pagi selimuti kota, denting bel sepeda, suara lembaran koran dibuka di teras rumah, aroma kopi, serta berita tentang kemenangan Persib atau gejolak politik nasional yang menjadi bahan obrolan di warung. Semuanya itu adalah bagian dari memori kolektif, yang tak bisa tergantikan oleh notifikasi ponsel.

Tapi, apalah daya Penulis. Di tengah kian majunya teknologi digitalisasi, satu demi satu koran yang dulu menjadi bagian terpenting dalam memori itu, kini telah mati. Seiring senjakala itu, ikut redup pula profesi loper koran. Padahal, dalam sejarahnya, profesi yang berasal dari kata Bahasa Belanda: krantenloper ini, adalah pintu masuk ke dunia kerja bagi banyak remaja di berbagai negara.

Baca juga: “Constellation of Us”, Single Perdana Faza Rahim Menuju Debut Personal dalam “Gonna Get Out!”

Hari Loper Koran pun diperingati setiap tahun pada 8 Oktober, pertanda dihargainya profesi ini dalam ekosistem informasi, yang membentuk kebiasaan literasi warga dunia selama puluhan tahun.

undefinedLoper koran adalah pintu masuk ke dunia kerja bagi banyak remaja di berbagai negara

Namun, era informasi digital yang serba cepat dan gratis telah membuat peran loper terpinggirkan. Tak banyak lagi orang yang menekuni pekerjaan ini. Di antara yang tersisa dan tetap sangat setia menjaga tradisi ini, adalah sejumlah orang yang tinggal satu kota dengan Penulis di Subang.

Baca juga: Agar Ibu-Ibu Bisa Selalu Tersenyum Manis, ayo Bikin Cemilan buat Jualan: Soft Baked Cookies

Dengan sepeda tua, tas selempang penuh surat kabar, dan semangat tidak kunjung padam, orang-orang ini masih rutin menyusuri jalanan kota setiap pagi. Orang-orang ini bukan sekadar penjual berita, namun juga pengantar kenangan dan penjaga ritme kehidupan dari sebuah kota kecil yang pernah begitu akrab dengan aroma tinta cetak. Siapakah mereka?

undefined

 Mang Ujang, Loper Tertua Kota Subang

Sosok dan nama lelaki 75 tahun ini tak lagi asing bagi warga Subang. Mang Ujang adalah pengecer dan loper koran tertua di kota ini. Sudah hampir lima dekade, Mang Ujang menjalani profesi ini, mulai dari membantu sang paman pada tahun 1970-an, hingga akhirnya meneruskan usaha itu seorang diri.

Baca juga: Info Lowongan Kerja Versi Ke-159

Sehari-hari, dulu, Mang Ujang mengayuh sepedanya dengan menyusuri rute yang sama: dari belakang Lapang Bintang, melewati Jalan Otista, singgah di kios kopi di Pasar Inpres, dan berakhir di sekitar Terminal Pujasera, Subang.

Setiap pagi, bahkan sebelum ayam berkokok, Mang Ujang sudah siap dengan ikatan koran di boncengan sepedanya. Kala itu, isi boncengan didominasi media Kompas, Pikiran Rakyat, Galamedia, Mandala, dan juga koran lokal.

Baca juga: Santap Menu Khas Jawa Timur di Mbo’Is Resto Cibinong Bogor, Pengunjung: ”Alhamdulillah, Rasanya Enak Semua”

Mang Ujang pun mengantarkan koran-koran itu ke lebih dari 100 pelanggan, dengan profesi beragam: guru, pegawai kantor dinas, hingga pedagang pasar.

Kini, dalam usia tak lagi muda, pelanggan Mang Ujang tinggal belasan orang yang masih setia. Namun, semangat Mang Ujang tetap menyala. Bersama istri yang setia menemani berkeliling mengantarkan koran, hari-hari Mang Ujang tetap sama dengan dulu. Demikian pula tekadnya selaku pengantar koran.

Baca juga: Sambut HJB Ke-543, Ribuan Pengunjung Padati Kabogorfest 2025 di Stadion Pakansari Cibinong Bogor

Bagi Mang Ujang, pekerjaan mengantar koran bukan lagi sekadar rutinitas, tapi sudah bagian dari jati diri. “Saya bukan cari kaya. Cuma pengen tetap berguna, tetap gerak,” ujar Mang Ujang, dalam sebuah kesempatan perbincangan dengan Penulis.

undefined

 Bu Iyos, Penjaga Warisan Sang Suami

Di sekitar Terminal Pujasera, Subang, kini masih berdiri lapak koran sederhana milik Bu Iyos. Sejak Akim, suaminya, loper koran keliling, meninggal dunia, perempuan 67 tahun ini meneruskan usaha lapak itu seorang diri.

Baca juga: 14 Juni 1971 di Semarang: Koran Suluh Marhaen Merilis Jadwal Nonton Film “Si Buta dari Gua Hantu”

Lapak yang dulu ramai oleh puluhan koran dan tabloid, kini hanya menyisakan lima surat kabar: Kompas, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, dan Pasundan Ekspres, serta majalah bulanan berbahasa Sunda, Mangle. Ketika dunia media cetak terus tergerus digitalisasi, Bu Iyos tetap bertahan.

“Ibu akan tetap jualan koran, selama masih ada surat kabar yang terbit,” ucap Bu Iyos.

Baca juga: 57 Tahun Dijajakan di Cibadak Sukabumi, Rasa Kue Pancong Pak Yayat Pernah Sampai Bikin Ngidam Ibu Hamil

Sebuah ucapan sederhana. Namun, menyimpan keteguhan luar biasa, berupa kecintaan kepada profesi, kesetiaan terhadap pasangan, dan keberanian mempertahankan nilai-nilai di tengah arus zaman.

undefined

 Iwan Koran”: Masih Rutin Jajakan Koran

Sosok yang tak juga bisa dilewatkan adalah Kang Iwan, atau akrab disapa “Iwan Koran". Loper ini masih rutin menjajakan sekitar 100 eksemplar koran setiap hari, dan mengantarnya ke kantor-kantor, pegawai negeri, hingga pensiunan. Koran yang paling laris? Tentu saja Pasundan Ekspres, koran lokal kebanggaan warga Subang.

undefined

 Kios Koran Kang Iik di Jalur Pantura

Di bawah Fly Over Pamanukan, arah Jakarta, saat ini masih berdiri kios koran Kang Iik. Menjual sekitar 10 koran setiap harinya, Kang Iik tetap bertahan. Kang Iik percaya, selama masih ada satu-dua pembaca yang mencari koran, kiosnya tetap punya arti.

undefinedSelama masih ada koran, selama itu pula tetap ada orang menekuni profesi loker

Tentu, bagi penikmat setia koran, sosok macam Kang Iik, Mang Ujang, Bu Iyos, dan Kang Iwan juga punya arti lebih dari sekadar kios. Para loper ini adalah pengingat, bahwa di dunia yang terus bergerak cepat, tetap ada kesetiaan dan kekuatan dalam kesederhanaan.

Baca juga: Bahagia Sesimpel Mr. Bean: Bikin Scone, Sambut Weekend

Bila jurnalis sejati baru akan berhenti setelah mati, maka demikian pula dengan loper-loper ini. Koran yang para loper jajakan itu bisa henti edar kapan saja. Namun, bukan lantas membuat loper ikut berhenti beredar. Loper memiliki “dunia” sendiri, yang membuat mereka belum akan tiba di titik “game over”, alias “berhenti”.

undefinedLoper adalah pengingat akan pentingnya kesetiaan dan kekuatan dalam kesederhanaan

Di titik itulah, ada nama-nama yang Penulis tulis: Mang Ujang, Bu Iyos, Kang Iwan, dan Kang Iik. (*)

*)Kin Sanubary, Kolektor Media Lawas

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Setelah Atraksi dengan Barang Bekas Viral di Medsos, SDN Tegalega Jampangtengah Sukabumi Dapat Peralatan Marching Band Baru dari Presiden Prabowo Subianto
11 Hari Jelang Putusan Hakim PN Makassar, Jubir Ahli Waris Labbai Buat Video Kronologi Sengketa: “PT Bumi Karsa-Kalla Grup Tidak Pernah Membeli Lokasi Ahli Waris Labbai bin Sonde”
“The Friendship Linedance Gathering” Bersama Jun & Friends di Revo Mall Kota Bekasi: Dimeriahkan Mama-Mama Very Cute, Pererat Silaturahmi Sesama Pedansa
Kunker ke Kejari Kota Bogor, Kejari Kabupaten Bogor, dan Kejari Depok, Kajati Jabar Minta Seluruh Jajaran Meningkatkan Sinergi dengan Stakeholder di Daerah

Lowongan Kerja

Nusantara Jumat, 26-Jun-2026 20:59
Lowongan Kerja
Didampingi Kajati Jabar, JAM-Intel Berikan Kuliah Umum bagi Praja IPDN di Kampus Jatinangor Sumedang
Lantik Asisten Pemulihan Aset dan Asisten Pidana Militer pada Kejati Jabar, Kajati: “Laksanakan Tugas secara Profesional, Berintegritas, dan Berkeadilan”

Lowongan Kerja

Ragam Selasa, 23-Jun-2026 18:45
Lowongan Kerja
Labbai Dulu Jual Sembako dan Punya Tanah 27 Hektar, Ahli Warisnya Kini Menanti Putusan Gugatan atas PT Bumi Karsa-Kalla Grup di PN Makassar
Lomba Mancing Mania Polres Metro Bekasi Kota Sambut HUT Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Briptu Pol. Andi Setiawan Raih Juara I
Mohon Keadilan dalam Sidang Putusan Gugatan atas PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar, Berikut Isi Surat Ahli Waris Labbai ke MA RI
Kunker ke Kejari Kabupaten Bandung, Kajati Jabar: “Kejaksaan Harus Memberikan Dampak Positif di Setiap Kabupaten dan Kota”
Jelang Sidang Putusan Gugatan atas PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar, Jubir Ahli Waris Labbai Surati MA RI: “Lokasi Bukan Tanah Adat, BPN Kota Makassar Menerbitkan 5 SHM di Tanah Redis“
Sidang 25 Kali hingga Putusan di PN Makassar, Jubir Ahli Waris Labbai: “PT Bumi Karsa Mendalilkan Membeli Lokasi Itu pada 1980 dari Orang Sudah Meninggal pada 1979”
Hadir sebagai Narasumber di Temu Jurnalis Provinsi Gorontalo 2026, Dirreskrimsus Polda Gorontalo: “Masyarakat Perlu Memahami Pentingnya Menghormati Hak Cipta”
Putusan Gugatan Ahli Waris Labbai Dibacakan di PN Makassar 23 Juni 2026, Jubir: "PT Bumi Karsa Secara Tidak Langsung Sudah Mengakui Lokasi Bukan Miliknya"
Dukung Penanganan Perkara Tindak Pidana Korupsi, KPK dan Kortas Tipidkor Polri Kunjungi dan Gelar RDP di Polda Gorontalo
Resmi Jawab Somasi Melalui Kuasa Hukum, Ahli Waris Labbai akan Bongkar dan Kembalikan Papan Bicara PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar

Lowongan Kerja

Ragam Rabu, 10-Jun-2026 19:58
Lowongan Kerja

Lowongan Kerja

Ragam Selasa, 9-Jun-2026 18:49
Lowongan Kerja