Ngontel Ngider Tiap Hari dengan Enteng, Koran Masih Punya Pembaca Setia di Bandung Berkat Pak Ateng

Rabu, 5 Nov 2025 14:48
    Bagikan  
Ngontel Ngider Tiap Hari dengan Enteng, Koran Masih Punya Pembaca Setia di Bandung Berkat Pak Ateng
Kin Sanubary

Pak Ateng (kiri) bersama pewarta foto, Agus Wahyudi, di Lapangan Tegallega, Bandung

INDONESIATREN.COM - Postingan yang diunggah Penulis di Facebook (FB) pada Selasa, 4 November 2025, sekitar pukul 16:30 WIB, itu, tak diduga menuai sambutan riuh. Noe Firman, pemilik Koran Gala, Bandung, menulis di kolom komentar, “Kereeen..” Komentar yang membuat hati bungah atau berbunga-bunga juga ditulis jurnalis senior, Asep S. Bakrie, dan mantan redaktur Koran Pikiran Rakyat, Bandung, Syamsul Ma’arif.

”Duh, jangan jangan dulu ada rezeki yang saya makan juga atas jasa pengantaran koran Pa Ateng. Mugia sehat salamina, Bapa. Om Kin, sae postinganana....” tulis Asep. “Semoga sehat selalu pa Ateng teringat waktu jaman bursa koran cikapundung kalau pagi mani ngagulung ku loper sareng. Agen ha ha,” tulis Syamsul.

Baca juga: Terdampak Cuaca Ekstrim, Longsor dan Banjir Dilaporkan Terjadi di Sejumlah Wilayah Sukabumi

Satu komentar lain, dari sekian banyak komentar yang berdatangan, juga ditulis Acep Zamzam Noor. Budayawan dan sastrawan ini menulis dengan nada sapa, “Mang ateng sehat”, lengkap disertai foto tengah duduk bersama sosok yang disapanya itu di daerah Dalem Kaum, Bandung.

“Sering tepang di dalem kaum, langganan,” tulis sohib Penulis ini, mengomentari foto unggahannya itu.

undefinedPak Ateng bersama budayawan dan sastrawan Acep Zamzam Noor di daerah Dalem Kaum, Bandung

Baca juga: Usia 67 Pentaskan “Musyawarah Burung”, STB Betul-Betul “Mawar di Taman Kesenian Bandung”

Bahwa kawan-kawan baik Penulis itu sampai bisa berkomentar riuh demikian, tiada lain karena Penulis mengunggah postingan mengenai sosok yang sangat mereka kenal. Yang di tengah gegasnya kehidupan Kota Bandung yang kian modern, justru masih sangat setia menjaga denyut masa lalu. Yakni: Pak Ateng.

Setiap pagi, sebelum matahari sempurna menanjak melampaui batas ufuk, denting bel sepeda dan suara “koran…, koran...!” masih senantiasa terdengar dilantunkan Pak Ateng di sekitar Lapangan Tegallega, Bandung. Suara khas itu terucap dari seorang penjaja koran, yang telah puluhan tahun mengabdikan diri di jalanan kota berjuluk Kota Kembang ini.

Baca juga: Temu Tamu Coffee di Pagaden Subang: Makanan-Minuman dan Suasananya Mengundang Pengunjung Kembali Datang

Setiap pagi itu pula, hingga jelang siang, Pak Ateng rutin ngontel atau mengayuh sepedanya menyusuri Lapangan Tegallega, Jalan BKR, Jalan Oto Iskandar Dinata, Ciateul, Astana Anyar, Alun-Alun, Dalem Kaum, hingga ke Cibaduyut. Tas besar selalu menyertai di belakang sepedanya, berisikan koran yang terlipat rapi. Dan, tak lupa, mengenakan topi lusuh di kepalanya, yang menjadi penanda setia waktu yang terus berjalan. 

undefinedundefinedLapangan Tegallega, Bandung, tempat suara Pak Ateng masih kerap terdengar, “Koran..., koran...!!!”

Dulu, hampir setiap rumah berlangganan koran. Pagi-pagi, warga sudah menanti di depan pagar, untuk segera membaca berita segar dari Pikiran Rakyat, Galamedia, Kompas, atau majalah mingguan populer kala itu. Namun, kini, pelanggan tetap Pak Ateng tinggal bisa dihitung dengan jari. Banyak diantara para pelanggan yang masih setia itu adalah mereka yang sudah lanjut usia, yang masih ingin menjaga kebiasaan lama: membaca berita dari kertas, bukan dari layar.

Baca juga: Jumat-Sabtu Ini di Rumentang Siang Bandung: STB Rayakan HUT ke-67 dengan Pentaskan Lakon “Musyawarah Burung”

Kendati begitu, di usianya kini yang telah mencapai 70-an tahun, semangat Pak Ateng untuk ngider atau berkeliling menjajakan koran tak ikutan surut. Dengan sepeda tuanya yang sudah menempuh jarak ribuan kilometer, Pak Ateng masih rutin berkeliling Kota Bandung tiap hari, membawakan kabar dari lembaran-lembaran kertas koran yang kini makin jarang dicari orang.

“Saya mah geus biasa ngider, ti isuk kénéh nepi ka jam sapuluhan (saya sudah biasa keliling, dari masih pagi sampai sekitar pukul 10-an),” ujar Pak Ateng sambil tersenyum, dengan peluh menetes di keningnya. “Ayeuna mah paling loba tilu puluh, lima puluh koran sapoé, beda jeung baheula, bisa ratusan (sekarang paling banyak terjual 30, 50 koran sehari, beda dengan dulu, bisa ratusan).”

Baca juga: Kolaborasi dengan Grab Indonesia, GAC AION Kampanyekan Edukasi Keselamatan Berkendara di Jalan Raya

“Kadang, koran sésa mah dibawa ka taman, dibaca ku nu keur ngopi. Nu penting mah teu ngabandél (kadang, sisa koran yang tidak terjual dibawa ke taman, dibaca oleh orang yang sedang minum kopi. Yang penting tidak bandel),” kata Pak Ateng dengan ringan, menandakan kesederhanaan adalah teman hidupnya paling akrab selama ini.

undefinedundefinedPenulis, bersama koran yang dibeli dari Pak Ateng

Saat ini, Pak Ateng hanya menjajakan beberapa koran terbitan Bandung, seperti Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Koran Gala, dan juga Kompas. Pak Ateng tahu betul, masa kejayaan media cetak sudah lama berlalu. Namun, bagi Pak Ateng, profesi ini bukan sekadar pekerjaan, namun juga wujud pengabdian kepada waktu dan kebiasaan lama yang ingin dirinya jaga.

Baca juga: Cegah Bullying, Kejati Jabar Gelar Kegiatan JMS di SMAN 1 Bojongsoang Kabupaten Bandung

Pak Ateng bukan hanya pengantar berita, tapi juga saksi perubahan zaman, dari masa ketika berita masih dicetak di kertas beraroma tinta, hingga kini ketika kabar menyala di layar-layar gawai. Di tengah senja kala media cetak itu, sosok seperti Pak Ateng senantiasa menjadi pengingat, bahwa tidak semua hal bisa digantikan oleh teknologi. Di balik setiap koran yang sampai ke tangan pembaca, ada peluh, kesetiaan, dan cinta yang tak lekang oleh waktu.

Sama dengan penjaja koran legendaris bernama Pak Ujang asal Subang, yang beberapa bulan lalu telah berpulang selamanya ke Haribaan Sang Pencipta. Maka, selama masih ada orang seperti Pak Ateng, yang setia mengayuh sepeda dan membagikan berita dari hati ke hati, dunia cetak tak akan benar-benar mati.  Media itu hanya berganti bentuk. Namun,rohnya tetap hidup di setiap ingatan yang tak ingin dilupakan.

undefinedundefinedPenulis bersama almarhum Mang Ujang (atas), dan Pak Ateng bersama sepeda tuanya

Baca juga: Kajati Jabar Lantik 25 Pejabat Baru, Taufan Zakaria Menjadi Wakajati Jabar

Pak Ateng pun hanya tersenyum, ketika ditanya sampai kapan akan terus berkeliling mengantar koran.

“Selama awak masih kuat ngontél, selama aya nu masih hayang maca koran, insya Allah, Bapak terus waé (selama badan masih kuat mengayuh sepeda, selama masih ada yang mau baca koran, insya Allah, Bapak terus saja),” ucap Pak Ateng pelan, namun pasti.

Koran-koran yang beredar di Bandung wajib berterima-kasih atas janji Pak Ateng ini...!!! (*)

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Setelah Atraksi dengan Barang Bekas Viral di Medsos, SDN Tegalega Jampangtengah Sukabumi Dapat Peralatan Marching Band Baru dari Presiden Prabowo Subianto
11 Hari Jelang Putusan Hakim PN Makassar, Jubir Ahli Waris Labbai Buat Video Kronologi Sengketa: “PT Bumi Karsa-Kalla Grup Tidak Pernah Membeli Lokasi Ahli Waris Labbai bin Sonde”
“The Friendship Linedance Gathering” Bersama Jun & Friends di Revo Mall Kota Bekasi: Dimeriahkan Mama-Mama Very Cute, Pererat Silaturahmi Sesama Pedansa
Kunker ke Kejari Kota Bogor, Kejari Kabupaten Bogor, dan Kejari Depok, Kajati Jabar Minta Seluruh Jajaran Meningkatkan Sinergi dengan Stakeholder di Daerah

Lowongan Kerja

Nusantara Jumat, 26-Jun-2026 20:59
Lowongan Kerja
Didampingi Kajati Jabar, JAM-Intel Berikan Kuliah Umum bagi Praja IPDN di Kampus Jatinangor Sumedang
Lantik Asisten Pemulihan Aset dan Asisten Pidana Militer pada Kejati Jabar, Kajati: “Laksanakan Tugas secara Profesional, Berintegritas, dan Berkeadilan”

Lowongan Kerja

Ragam Selasa, 23-Jun-2026 18:45
Lowongan Kerja
Labbai Dulu Jual Sembako dan Punya Tanah 27 Hektar, Ahli Warisnya Kini Menanti Putusan Gugatan atas PT Bumi Karsa-Kalla Grup di PN Makassar
Lomba Mancing Mania Polres Metro Bekasi Kota Sambut HUT Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Briptu Pol. Andi Setiawan Raih Juara I
Mohon Keadilan dalam Sidang Putusan Gugatan atas PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar, Berikut Isi Surat Ahli Waris Labbai ke MA RI
Kunker ke Kejari Kabupaten Bandung, Kajati Jabar: “Kejaksaan Harus Memberikan Dampak Positif di Setiap Kabupaten dan Kota”
Jelang Sidang Putusan Gugatan atas PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar, Jubir Ahli Waris Labbai Surati MA RI: “Lokasi Bukan Tanah Adat, BPN Kota Makassar Menerbitkan 5 SHM di Tanah Redis“
Sidang 25 Kali hingga Putusan di PN Makassar, Jubir Ahli Waris Labbai: “PT Bumi Karsa Mendalilkan Membeli Lokasi Itu pada 1980 dari Orang Sudah Meninggal pada 1979”
Hadir sebagai Narasumber di Temu Jurnalis Provinsi Gorontalo 2026, Dirreskrimsus Polda Gorontalo: “Masyarakat Perlu Memahami Pentingnya Menghormati Hak Cipta”
Putusan Gugatan Ahli Waris Labbai Dibacakan di PN Makassar 23 Juni 2026, Jubir: "PT Bumi Karsa Secara Tidak Langsung Sudah Mengakui Lokasi Bukan Miliknya"
Dukung Penanganan Perkara Tindak Pidana Korupsi, KPK dan Kortas Tipidkor Polri Kunjungi dan Gelar RDP di Polda Gorontalo
Resmi Jawab Somasi Melalui Kuasa Hukum, Ahli Waris Labbai akan Bongkar dan Kembalikan Papan Bicara PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar

Lowongan Kerja

Ragam Rabu, 10-Jun-2026 19:58
Lowongan Kerja

Lowongan Kerja

Ragam Selasa, 9-Jun-2026 18:49
Lowongan Kerja