Masa Jaya Dongeng Sunda di Radio: Mendengarkan Tisna Suntara dan Andi Djauhari di “Sempal Guyon Parahyangan"

Selasa, 6 Aug 2024 12:23
    Bagikan  
Masa Jaya Dongeng Sunda di Radio: Mendengarkan Tisna Suntara dan Andi Djauhari di “Sempal Guyon Parahyangan"
Kin Sanubary

.

INDONESIATREN.COM - “Wilujeng tepang para mitra sadaya. Patepang dangu deui sareng acara anu maneuh "Sempal Guyon Parahyangan...."

Pendengar radio di Bandung dan Jawa Barat pada era tahun ‘80-’90-an tentu masih ingat betul dengan kata sapa pembuka di atas, dari sebuah acara radio, yang disiarkan oleh radio-radio siaran swasta niaga di hampir seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat.

Baca juga: Sekilas Mengenai Jahe: Disukai Kong Hu Tju Hingga Penikmat Wedang Ronde

Atau, juga dengan kata sapa pembuka di bawah ini:

“Wilujeng tepang paramitra sadaya, patepang dangu deui sareng acara anu maneuh Dongeng Sunda Pasosore ti radio kameumeut balarea dina waktos sareng gelombang nu sami, wilujeng ngadangukeun ka paramitra di mana wae ayana”

Baca juga: Menembus Waktu 62 Tahun Lalu: Praktek Membuat “Manisan Djahe” ala Mangle Oleh Teh Nata

Kata sapa pembuka tersebut terus terkenang hingga kini, karena kata-kata itulah yang senantiasa mengawali penayangan acara Dongeng Sunda paling terkenal kala itu, yakni “Sempal Guyon Parahyangan”.

Acara ini diproduksi Radio Garuda Bandung, dan ditayangkan oleh berbagai radio siaran swasta niaga di Jawa Barat.

Baca juga: Barometer Gaya Hidup Remaja Era ‘80-’90-an: Wajib Baca Hai!!!

Ada beragam tokoh yang selalu berceloteh “nyunda” di acara ini, seperti Kundang, Mas Paijo, Pak Otong, Nyi Iting, Pak Kurdi, Mang Minta, Abah Jangkung, Oded, dan masih banyak lagi tokoh yang lainnya. Tema perbincangan yang senantiasa “diributkan” oleh para tokoh itu, adalah kehidupan sehari-hari dari sebuah keluarga Sunda.

Setiap tokoh dalam acara ini memiliki karakter dan ciri khas masing-masing. Demikian pula karakter suaranya: sangat berbeda antara satu tokoh dengan tokoh lainnya. Alhasil, banyak pendengar radio yang akhirnya kaget, begitu tahu bila seluruh suara dari para tokoh itu hanya keluar dari mulut dua orang saja, yakni Tisna Suntara dan Andi R. Djauhari.

Baca juga: Resep Mangle Tahun 1965: Olah Biji Durian Jadi Kerupuk

Kedua orang inilah sosok yang mengumandangkan berbagai karakter suara yang berbeda-beda dalam acara radio “Sempal Guyon Parahyangan” itu. Disiarkan setiap sore, hingga disebut “Dongeng Sunda Pasosore” atau “Dongeng Sunda Pada Waktu Sore”, kepopuleran acara itu sontak melambungkan nama Tisna Suntara dan Andi R. Djauhari.

undefinedTisna Suntara dan Andi R. Djauhari di acara "Sempal Guyon Parahyangan"

Kala itu, tahun ‘80-’90-an, adalah masa keemasan radio di Bandung dan sebagian besar wilayah Jawa Barat. Pada masa itu, radio-radio siaran swasta niaga hampir ada di seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat, serta menjadi penyedia hiburan utama bagi masyarakat.

Baca juga: Kisah 60 Tahun Silam: Keramas Pakai Kulit Jengkol

Dan, Dongeng Sunda adalah salah satu acara yang paling mencuri perhatian, serta menciptakan kenangan tak terlupakan bagi para pendengarnya. Popularitas Dongeng Sunda, beserta para penyiarnya kala itu, benar-benar sangat luar biasa. Kondisi itu tercipta karena para juru dongeng ini menyapa pendengar setianya setiap hari tanpa jeda, lewat cerita-cerita yang sangat akrab dengan hidup keseharian para pendengarnya.

Berkat pertemuan setiap hari di “udara” itu pula, lambat laun tercipta ikatan batin yang unik antara penyiar dan pendengar, serta menjadikan acara Dongeng Sunda itu sebagai wadah kekerabatan baru.

Baca juga: 31 Juli 2024, Gereja Santo Ignatius Cimahi Rayakan Pesta Nama Pelindung Gereja ke-116 Tahun

Berkat acara Dongeng Sunda ini, ketenaran seorang bupati atau tokoh publik di wilayah Jawa Barat saat itu bisa dibilang “tak ada apa-apanya”, bila dibandingkan keterkenalan nama-nama seperti Uwa Kepoh, Djamar Media, Haji Dulacis, Tisna Suntara, Andi R. Djauhari, Mang Barna, Mang Jaya, Mang Engkos, Ki Leuksa, Mang Dina, Pak Indrajaya, dan Bah Selud, bersama puluhan juru dongeng lainnya.

undefined

Hingga kini, kenangan dan kesan yang tercipta lewat Dongeng Sunda yang diudarakan oleh nama-nama tersebut di atas terasa benar tak pernah pudar. Nama-nama itu masing-masing punya cara unik untuk membius pendengarnya, dengan beragam kisah menarik dan kelucuan-kelucuan yang membuat para pendengarnya tidak bisa berhenti mendengarkan hingga acara selesai.

Baca juga: Mangga Dicobi Resep ti Mangle: Goreng Sangu Di-ontjoman

Penyajian Dongeng Sunda di radio ini berbeda dengan sandiwara radio konvensional yang melibatkan pemeran fisik di sebuah panggung. Kisah dan cerita dalam Dongeng Sunda juga tidak hanya mencakup kehidupan sehari-hari, namun bisa berisikan cerita silat dan roman Sunda yang sangat digemari oleh pendengar radio saat itu.

Sangat sulit dilupakan juga dongeng legenda dan mistik seperti Si Rawing, Si Buntung Jago Tutugan, Jawara Sagara Kidul, Si Keling, dan masih banyak lagi yang lainnya.

undefined

Kenangan akan Dongeng Sunda di radio memang senantiasa abadi bagi siapa pun yang pernah mendengarkannya. Acara-acara di radio itu merupakan bagian hidup masa lalu yang indah untuk dikenang. Tak heran bila almarhum penyanyi Gombloh pernah menyanyikan lagu yang juga sangat ternama di masanya, “Di radio, aku dengar lagu kesayanganku...” (*)

*) Kin Sanubary, pendengar dan pemerhati siaran radio

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Setelah Atraksi dengan Barang Bekas Viral di Medsos, SDN Tegalega Jampangtengah Sukabumi Dapat Peralatan Marching Band Baru dari Presiden Prabowo Subianto
11 Hari Jelang Putusan Hakim PN Makassar, Jubir Ahli Waris Labbai Buat Video Kronologi Sengketa: “PT Bumi Karsa-Kalla Grup Tidak Pernah Membeli Lokasi Ahli Waris Labbai bin Sonde”
“The Friendship Linedance Gathering” Bersama Jun & Friends di Revo Mall Kota Bekasi: Dimeriahkan Mama-Mama Very Cute, Pererat Silaturahmi Sesama Pedansa
Kunker ke Kejari Kota Bogor, Kejari Kabupaten Bogor, dan Kejari Depok, Kajati Jabar Minta Seluruh Jajaran Meningkatkan Sinergi dengan Stakeholder di Daerah

Lowongan Kerja

Nusantara Jumat, 26-Jun-2026 20:59
Lowongan Kerja
Didampingi Kajati Jabar, JAM-Intel Berikan Kuliah Umum bagi Praja IPDN di Kampus Jatinangor Sumedang
Lantik Asisten Pemulihan Aset dan Asisten Pidana Militer pada Kejati Jabar, Kajati: “Laksanakan Tugas secara Profesional, Berintegritas, dan Berkeadilan”

Lowongan Kerja

Ragam Selasa, 23-Jun-2026 18:45
Lowongan Kerja
Labbai Dulu Jual Sembako dan Punya Tanah 27 Hektar, Ahli Warisnya Kini Menanti Putusan Gugatan atas PT Bumi Karsa-Kalla Grup di PN Makassar
Lomba Mancing Mania Polres Metro Bekasi Kota Sambut HUT Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Briptu Pol. Andi Setiawan Raih Juara I
Mohon Keadilan dalam Sidang Putusan Gugatan atas PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar, Berikut Isi Surat Ahli Waris Labbai ke MA RI
Kunker ke Kejari Kabupaten Bandung, Kajati Jabar: “Kejaksaan Harus Memberikan Dampak Positif di Setiap Kabupaten dan Kota”
Jelang Sidang Putusan Gugatan atas PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar, Jubir Ahli Waris Labbai Surati MA RI: “Lokasi Bukan Tanah Adat, BPN Kota Makassar Menerbitkan 5 SHM di Tanah Redis“
Sidang 25 Kali hingga Putusan di PN Makassar, Jubir Ahli Waris Labbai: “PT Bumi Karsa Mendalilkan Membeli Lokasi Itu pada 1980 dari Orang Sudah Meninggal pada 1979”
Hadir sebagai Narasumber di Temu Jurnalis Provinsi Gorontalo 2026, Dirreskrimsus Polda Gorontalo: “Masyarakat Perlu Memahami Pentingnya Menghormati Hak Cipta”
Putusan Gugatan Ahli Waris Labbai Dibacakan di PN Makassar 23 Juni 2026, Jubir: "PT Bumi Karsa Secara Tidak Langsung Sudah Mengakui Lokasi Bukan Miliknya"
Dukung Penanganan Perkara Tindak Pidana Korupsi, KPK dan Kortas Tipidkor Polri Kunjungi dan Gelar RDP di Polda Gorontalo
Resmi Jawab Somasi Melalui Kuasa Hukum, Ahli Waris Labbai akan Bongkar dan Kembalikan Papan Bicara PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar

Lowongan Kerja

Ragam Rabu, 10-Jun-2026 19:58
Lowongan Kerja

Lowongan Kerja

Ragam Selasa, 9-Jun-2026 18:49
Lowongan Kerja