INDONESIATREN.COM - Rusaknya bendungan di Buku Balipen, Desa Rompu-Rompu, Kecamatan Poleang Utara, Kabupaten Bombana, memicu kekeringan di sejumlah Desa di Kecamatan Poleang Timur. Desa-desa itu antara lain adalah Desa Tosui, Lasiranta, Bambaea, dan Teppoe. Warga di empat desa itu kini menghadapi kondisi yang semakin sulit, tak terkecuali para petani yang menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian.
Sawah-sawah yang sebelumnya produktif, kini mulai mengering. Tanaman padi dan komoditas pertanian lainnya juga terancam gagal panen, karena minimnya pasokan air. Situasi ini tak hanya berdampak pada hasil pertanian, namun juga mengancam ketahanan pangan warga setempat.
Krisis air kini juga mulai dirasakan warga. Beberapa sumber air mulai mengering, sehingga memaksa warga mencari alternatif sumber air yang jaraknya lebih jauh. Kondisi ini menambah beban warga di tengah kebutuhan hidup yang kian meningkat.
Warga berharap, ada perhatian serius dari pemerintah daerah dan pemerintah provinsi untuk segera menangani kerusakan bendungan itu. Perbaikan infrastruktur pengairan ini dinilai bisa mencegah dampak yang lebih luas, terutama jika musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Tak hanya sawah, sumber air warga juga mulai mengering
Baca juga: Kunker ke Desa Tongkoseng Tontonunu, Bupati dan Ketua PKK Kabupaten Bombana Panen Ikan Bersama Warga
Selama ini, Bendungan Buku Balipen memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem pertanian di wilayah Poleang Raya. Karena itu, perbaikannya tidak bisa ditunda, mengingat dampaknya sudah dirasakan langsung oleh warga berbagai desa.
Warga juga berharap adanya langkah jangka panjang, seperti rehabilitasi total bendungan, penguatan sistem irigasi, serta pengelolaan sumber daya air yang lebih berkelanjutan, agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa depan. Krisis air yang terjadi saat ini menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap infrastruktur dasar di daerah.
Bendungan, irigasi, dan sistem pengairan bukan sekadar fasilitas pendukung, namun penopang utama kehidupan warga, khususnya di wilayah yang bergantung pada sektor pertanian. Penanganan yang cepat dan tepat diharapkan mampu memulihkan kembali pasokan air, menyelamatkan lahan pertanian, serta menjaga stabilitas kehidupan warga di wilayah terdampak.
Kini, harapan warga tertuju pada sinergi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera turun tangan. Sebab, air bukan hanya kebutuhan, namun juga sumber kehidupan yang menentukan masa depan warga. (*)
