Pentaskan “Bung di Banda”, STB Sukses Menjadi “Penampil Paling Dinanti” dalam FTI 2025 di Palu

Rabu, 10 Dec 2025 18:49
    Bagikan  
Pentaskan “Bung di Banda”, STB Sukses Menjadi “Penampil Paling Dinanti” dalam FTI 2025 di Palu
Dok. Studiklub Teater Bandung

Poster pentas “Bung di Banda” oleh STB di Gedung Kesenian Kota Palu

INDONESIATREN.COM - Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah, pada Sabtu hingga Senin, 6-8 Desember 2025, menjadi tuan rumah ajang tahunan bertajuk Festival Teater Indonesia (FTI) 2025. Dihelat di Gedung Kesenian Kota Palu, Jalan Tombolotutu, FTI 2025 ini menjadi titik temu kedua penyelenggaraan FTI, yang sedari awal diniatkan sebagai perayaan tahunan dunia teater Tanah Air.

Pembukaan festival ini dihadiri oleh Sekretaris Kota Palu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Palu, para kurator, serta insan seni pertunjukan dari berbagai daerah di Indonesia.

Baca juga: “Gebyar Festival Musik” di Tasikmalaya: Ria dari Garut dan Toni Asban asal Yogyakarta Sukses Jadi Juara

FTI ini terlaksana berkat kerjasama Titimangsa dan Penastri (Perkumpulan Nasional Teater Indonesia), serta didukung oleh Direktorat Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan RI. Mengusung tema “Sirkulasi Ilusi”, festival kali ini menyoroti silang batas antara realitas dan representasi dalam kehidupan kontemporer, sebuah gagasan yang membuka ruang dialog kreatif bagi para pelaku teater.

Di festival ini, berlangsung perjumpaan gagasan, kenangan, dan pencarian artistik, saat teater dari berbagai penjuru negeri berkumpul, guna membuka ruang bagi karya-karya yang menguji batas realitas dan ilusi, sekaligus menghadirkan kembali fragmen-fragmen sejarah yang mungkin terlewat dalam ingatan kolektif anak bangsa.

Baca juga: Tandai Eksistensi 3 Dekade, LPB Pentaskan “Koplak-Koplak” di Rumentang Siang Bandung Minggu Pekan Depan

FTI pun menegaskan dirinya sebagai ruang pertemuan, pertukaran, dan ekspresi bagi ekosistem teater Indonesia, dengan menghadirkan pertunjukan-pertunjukan adaptasi karya sastra Indonesia sebagai poros artistik utama. Tahun ini, selain pertunjukan teater, rangkaian kegiatan FTI mencakup Teras FTI, diskusi, lokakarya, dan jelajah panggung, yang memungkinkan terjadinya dialog antara penonton, kreator, dan kurator.

Khusus pertunjukan, FTI menghadirkan lima kelompok teater dari berbagai wilayah Indonesia, yakni:

Baca juga: Jalan Kesenimanan Yusef Muldiyana: Sejak Kecil Cinta Panggung, 3 Dekade Besarkan Laskar Panggung Bandung

~ Insomnia Theater Movement (Lombok Barat, NTB)

~ Komunitas Sakatoya (DI Yogyakarta)

~ Lentera Silolangi (Palu, Sulawesi Tengah)

~ Studiklub Teater Bandung / STB (Bandung, Jawa Barat)

~ Tilik Sarira Creative Process (Sukoharjo, Jawa Tengah).

undefinedundefinedPentas “Bung di Banda” oleh STB paling dinanti dalam FTI 2025

Baca juga: Ngontel Ngider Tiap Hari dengan Enteng, Koran Masih Punya Pembaca Setia di Bandung Berkat Pak Ateng

Salah satu penampilan yang paling dinanti dalam FTI 2025 ini adalah karya terbaru Studiklub Teater Bandung (STB) berjudul “Bung di Banda: Pengasingan dan Cinta”, pada Senin, 8 Desember 2025, pukul 20.00 WIB, di Gedung Kesenian Kota Palu.

Naskah karya ini ditulis mendiang Gunawan Maryanto, hasil adaptasi panggung dari novel  “Bung” karya Sergius Susanto. Disutradarai Ria Ellysa Mifelsa, pementasan ini menggabungkan pendekatan artistik intim dengan kekuatan dramatik sejarah. STB membawa kembali salah satu episode penting, namun jarang dipentaskan dari sejarah pergerakan Indonesia, yaitu pengasingan politik salah seorang Bapak Bangsa bernama Sutan Sjahrir di Banda Neira, Maluku, pada 1936.

Baca juga: Usia 67 Pentaskan “Musyawarah Burung”, STB Betul-Betul “Mawar di Taman Kesenian Bandung”

Dalam pementasan ini, sosok Sutan Sjahrir diperankan oleh Indrasitas. Sementara Mohammad Hatta oleh Kemal Ferdiansyah, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo oleh Deden Syarif, Iwa Koesoemasoemantri oleh Andi Piteuk, Danu Kuraisin oleh Yati SA, Maria Duchâteau oleh Diana Ganda, dan Des Alwi oleh Rai Rafki.

Di balik panggung, pementasan ini ditopang tim kuat, yang terdiri dari Diana Ganda (Pimpinan Produksi), IGN Arya Sanjaya (Penata Artistik), Yati SA (Penata Kostum), serta Aji Sangiaji (Multimedia dan Pencahayaan).

undefinedundefinedNaskah ditulis mendiang Gunawan Maryanto, hasil adaptasi novel  “Bung” karya Sergius Susanto

Baca juga: Temu Tamu Coffee di Pagaden Subang: Makanan-Minuman dan Suasananya Mengundang Pengunjung Kembali Datang

“Bung di Banda” mengangkat pergulatan batin empat tokoh pergerakan: Sjahrir, Hatta, Tjipto, dan Iwa, yang dibuang Pemerintah Kolonial Belanda ke Banda Neira pada 1936. Di tengah keterasingan, tumbuh persahabatan dan percakapan panjang tentang masa depan bangsa, sekaligus kesunyian yang menuntut keteguhan jiwa.

Drama ini juga menyoroti kisah cinta tak lazim antara Sutan Sjahrir dan Maria Duchâteau, seorang perempuan Belanda, yang mencintainya dalam senyap, sementara hubungan mereka terjepit oleh batas-batas kolonial dan ketidakpastian zaman.

Baca juga: Jumat-Sabtu Ini di Rumentang Siang Bandung: STB Rayakan HUT ke-67 dengan Pentaskan Lakon “Musyawarah Burung”

Ketika Jepang memasuki Ambon pada 1942, Sjahrir dan Hatta kembali ke Jawa, meninggalkan Banda dan Des Alwi, bocah yang kelak menjadi saksi berbagai babak sejarah.

undefinedundefined“Bung di Banda” mengangkat kisah empat tokoh pergerakan yang dibuang ke Banda Neira pada 1936

Melalui “Bung di Banda”, STB tak hanya menghadirkan drama sejarah, namun juga membuka pintu bagi publik untuk menengok kembali kesunyian para pendiri bangsa. Kesunyian yang membentuk keteguhan mereka dalam menyusun masa depan Indonesia.

Baca juga: Art Jakarta 3-5 Oktober 2025: Saatnya Menikmati “Melukis Suara Alam Pagi Jatiluwih” Karya Putu PW Winata

STB juga mengajak penonton merenungkan, bagaimana pengasingan membentuk manusia, memperkuat karakter dan tekad, serta memunculkan kesepian dan kerentanan yang kerap tak tercatat dalam buku sejarah. Pentas “Bung di Banda” ini pun menjadi salah satu penampilan yang memperkaya FTI 2025, dan menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang babak-babak senyap dalam perjalanan bangsa.

Ketika tirai Festival Teater Indonesia 2025 perlahan tertutup di Palu, yang tersisa bukan hanya tepuk tangan, melainkan juga ajakan untuk terus merawat ingatan, dialog, dan imajinasi yang membuat teater tetap menjadi ruang paling jujur bagi manusia untuk membaca dirinya sendiri.

undefinedundefined“Bung di Banda” hidupkan kembali ingatan tentang babak senyap perjalanan bangsa

Tak sia-sia STB melanglang jauh dari Bandung untuk pentas di Palu. (*)

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Setelah Atraksi dengan Barang Bekas Viral di Medsos, SDN Tegalega Jampangtengah Sukabumi Dapat Peralatan Marching Band Baru dari Presiden Prabowo Subianto
11 Hari Jelang Putusan Hakim PN Makassar, Jubir Ahli Waris Labbai Buat Video Kronologi Sengketa: “PT Bumi Karsa-Kalla Grup Tidak Pernah Membeli Lokasi Ahli Waris Labbai bin Sonde”
“The Friendship Linedance Gathering” Bersama Jun & Friends di Revo Mall Kota Bekasi: Dimeriahkan Mama-Mama Very Cute, Pererat Silaturahmi Sesama Pedansa
Kunker ke Kejari Kota Bogor, Kejari Kabupaten Bogor, dan Kejari Depok, Kajati Jabar Minta Seluruh Jajaran Meningkatkan Sinergi dengan Stakeholder di Daerah

Lowongan Kerja

Nusantara Jumat, 26-Jun-2026 20:59
Lowongan Kerja
Didampingi Kajati Jabar, JAM-Intel Berikan Kuliah Umum bagi Praja IPDN di Kampus Jatinangor Sumedang
Lantik Asisten Pemulihan Aset dan Asisten Pidana Militer pada Kejati Jabar, Kajati: “Laksanakan Tugas secara Profesional, Berintegritas, dan Berkeadilan”

Lowongan Kerja

Ragam Selasa, 23-Jun-2026 18:45
Lowongan Kerja
Labbai Dulu Jual Sembako dan Punya Tanah 27 Hektar, Ahli Warisnya Kini Menanti Putusan Gugatan atas PT Bumi Karsa-Kalla Grup di PN Makassar
Lomba Mancing Mania Polres Metro Bekasi Kota Sambut HUT Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Briptu Pol. Andi Setiawan Raih Juara I
Mohon Keadilan dalam Sidang Putusan Gugatan atas PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar, Berikut Isi Surat Ahli Waris Labbai ke MA RI
Kunker ke Kejari Kabupaten Bandung, Kajati Jabar: “Kejaksaan Harus Memberikan Dampak Positif di Setiap Kabupaten dan Kota”
Jelang Sidang Putusan Gugatan atas PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar, Jubir Ahli Waris Labbai Surati MA RI: “Lokasi Bukan Tanah Adat, BPN Kota Makassar Menerbitkan 5 SHM di Tanah Redis“
Sidang 25 Kali hingga Putusan di PN Makassar, Jubir Ahli Waris Labbai: “PT Bumi Karsa Mendalilkan Membeli Lokasi Itu pada 1980 dari Orang Sudah Meninggal pada 1979”
Hadir sebagai Narasumber di Temu Jurnalis Provinsi Gorontalo 2026, Dirreskrimsus Polda Gorontalo: “Masyarakat Perlu Memahami Pentingnya Menghormati Hak Cipta”
Putusan Gugatan Ahli Waris Labbai Dibacakan di PN Makassar 23 Juni 2026, Jubir: "PT Bumi Karsa Secara Tidak Langsung Sudah Mengakui Lokasi Bukan Miliknya"
Dukung Penanganan Perkara Tindak Pidana Korupsi, KPK dan Kortas Tipidkor Polri Kunjungi dan Gelar RDP di Polda Gorontalo
Resmi Jawab Somasi Melalui Kuasa Hukum, Ahli Waris Labbai akan Bongkar dan Kembalikan Papan Bicara PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar

Lowongan Kerja

Ragam Rabu, 10-Jun-2026 19:58
Lowongan Kerja

Lowongan Kerja

Ragam Selasa, 9-Jun-2026 18:49
Lowongan Kerja